Thursday, November 25, 2010

Ratu Elizabeth II berkerudung di Masjid

Setelah first lady Amerika Serikat, Michele Obama, berkerudung di Masjid Istiqlal Jakarta, kini giliran Ratu Elizabeth II melakukan hal serupa.

Getty Images

Ia bahkan mengenakan jubah panjang warna keemasan, kerudung juga keemasan, tetapi masih dengan topinya saat memasuki Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Ratu bersama Raja Philip dan rombongan.

Rombongan ratu Inggris ini begitu turun dari British Airways dari London langsung ke masjid terbesar di UEA, peninggalan pendiri Kerajaan UEA Sheikh Zayed, Rabu (24/ 11/2010), dalam kunjungan pertamanya sejak 31 tahun terakhir.

Sebelum memasuki ruang utama masjid megah itu, Ratu juga menyempatkan diri ke makam Sheikh Zayed, pendiri Uni Emirat Arab.

Ratu menggarisbawahi bahwa UEA adalah negara sahabat yang penting bagi Inggris. Pasangan Kerajaan Inggris itu juga disertai Pangeran Andrew, Duke of York, yaitu anak ketiga dari Ratu Elizabeth II.

Dalam kunjungan itu juga dibicarakan terkait rencana pernikahan Pangeran William dengan Kate Middleton pada 29 April 2011 mendatang.

Saat Ratu mengenakan jilbab dan jubah panjang menjadi perhatian media di dunia. Apalagi ketika Ratu memasuki ruang utama masjid dengan hamparan karpet 35 ton terbesar di dunia, yang konon harus dikerjakan oleh 1.200 perempuan Iran itu.

Sang Ratu pun berjalan di atas karpet yang empuk itu dengan menggunakan stocking warna kulit dan kaus tangan tipis putih.

Adapun perempuan lain dari rombongan itu mengenakan abaya hitam panjang sebagaimana orang Arab. Jubah atau gaun panjang sang Ratu hingga kaki, bersulam emas dan kristal tampak gemerlap. Selendang atau jilbabnya diikat di kepala, menutup topi kotak dan rambutnya.

Setelah di Abu Dhabi, rombongan pasangan Kerajaan Inggris itu akan mengunjungi Oman, tetangga UEA, dalam rangka hubungan bisnis dan investasi. Rencananya rombongan Kerjaan Inggris mengadakan lawatan selama lima hari di Timur Tengah.
Read full history - Ratu Elizabeth II berkerudung di Masjid

Wednesday, November 24, 2010

20.000 Orang Amerika Masuk Islam Setiap Tahun

Sejumlah data yang dikomposisikan oleh Demented Vision (2007), dari sebuah observasi di Amerika Serikat tentang perkembangan jumlah pemeluk agama-agama dunia menarik untuk dicermati. Dari data observasi itu, terdapat angka-angka yang menunj...ukkan perbandingan pertumbuhan penganut Islam dan Kristen di dunia. Lembaga itu mencatat, pada tahun 1900 jumlah pemeluk Kristen adalah 26,9% dari total penduduk dunia, sementara pemeluk Islam hanya 12,4%. 80 tahun kemudian (1980), angka itu berubah. Penganut Kristen bertambah 3,1% menjadi 30%, dan Muslim bertambah 4,1% menjadi 16,5% dari seluruh penduduk bumi.

Pada pergantian milenium kedua, yaitu 20 tahun kemudian (2000), jumlah itu berubah lagi tapi terjadi perbedaan yang menarik. Kristen menurun 0,1% menjadi 29,9% dan Muslim naik lagi menjadi 19,2%. Pada tahun 2025, angka itu diproyeksikan akan berubah menjadi: penduduk Kristen 25% (turun 4,9%) dan Muslim akan menjadi 30% (naik pesat 10,8%) mengejar jumlah penganut Kristen. Bila diambil rata-rata, Islam bertambah pemeluknya 2,9% pertahun. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk bumi sendiri yang hanya 2,3% pertahun. 17 tahun lagi dari sekarang, bila pertumbuhan Islam itu konstan, dari angka kelahiran dan yang masuk Islam di berbagai negara, berarti prediksi itu benar, Islam akan menjadi agama nomor satu terbanyak pemeluknya di dunia, menggeser Kristen menjadi kedua.

World Almanac and Book of Fact, #1 New York Times Bestseller, mencatat jumlah total umat Islam sedunia tahun 2004 adalah 1,2 milyar lebih (1.226.403.000), tahun 2007 sudah mencapai 1,5 milyar lebih (1.522.813.123 jiwa). Ini berarti, dalam 3 tahun, kaum Muslim mengalami penambahan jumlah sekitar 300 juta orang (sama dengan jumlah umat Islam yang ada di kawasan Asia Tenggara).

Fenomena di Amerika sendiri sangat menarik. Sangat tidak masuk di akal pemerintah George Bush dan tokoh-tokoh Amerika, masyarakat Amerika berbondong-bondong masuk Islam justru setelah peristiwa pemboman World Trade Center pada 11 September 2001 yang dikenal dengan 9/11 yang sangat memburukkan citra Islam itu. Pasca 9/11 adalah era pertumbuhan Islam paling cepat yang tidak pernah ada presedennya dalam sejarah Amerika. 8 juta orang Muslim yang kini ada di Amerika dan 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah pemboman itu. Pernyataan syahadat masuk Islam terus terjadi di kota-kota Amerika seperti New York, Los Angeles, California, Chicago, Dallas, Texas dan yang lainnya.

Atas fakta inilah, ditambah gelombang masuk Islam di luar Amerika, seperti di Eropa dan beberapa negara lain, beberapa tokoh Amerika menyatakan kesimpulannya. The Population Reference Bureau USA Today sendiri menyimpulkan: “Moslems are the world fastest growing group.” Hillary Rodham Cinton, istri mantan Presiden Clinton seperti dikutip oleh Los Angeles Times mengatakan, “Islam is the fastest growing religion in America.” Kemudian, Geraldine Baum mengungkapkan: “Islam is the fastest growing religion in the country” (Newsday Religion Writer, Newsday). “Islam is the fastest growing religion in the United States,” kata Ari L. Goldman seperti dikutip New York Times.

Atas daya magnit Islam inilah, pada 19 April 2007, digelar sebuah konferensi di Middlebury College, Middlebury Vt. untuk mengantisipasi masa depan Islam di Amerika dengan tajuk “Is Islam a Trully American religion?” (Apakah Islam adalah Agama Amerika yang sebenarnya?) menampilkan Prof. Jane Smith yang banyak menulis buku-buku tentang Islam di Amerika. Konferensi itu sendiri merupakan seri kuliah tentang Immigrant and Religion in America. Dari konferensi itu, jelas tergambar bagaimana keterbukaan masyarakat Amerika menerima sebuah gelombang baru yang tak terelakkan yaitu Islam yang akan menjadi identitas dominan di negara super power itu.

Anomali 9/11
Peristiwa 9/11 menyimpan misteri yang tidak terduga. Pemboman itu dikutuk dunia, terlebih Amerika, sebagai biadab dan barbar buah tangan para “teroris Islam.” Setelah peristiwa itu, kaum Muslimin di Amerika terutama imigran asal Timur Tengah merasakan getahnya mengalami kondisi psiokologis yang sangat berat: dicurigai, diteror, diserang, dilecehkan dan diasosiasikan dengan teroris. Hal yang sama dialami oleh kaum Muslim di Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Pemerintah George Walker Bush segera mengetatkan aturan imigrasi dan mengawasi kaum imigran Muslim secara berlebihan. Siaran televisi Fox News Channel, dalam acara mingguan “In Focus” menggelar diskusi dengan mengundang enam orang nara sumber, bertemakan ”Stop All Muslim Immigration to Protect America and Economy.” Acara ini menggambarkan kekhawatiran Amerika tidak hanya dalam masalah terorisme tetapi juga ekonomi dimana pengaruh para pengusaha Arab dan Timur Tengah mulai dominan dan mengendalikan ekonomi Amerika.

Tapi, rupanya Islam berkembang dengan caranya sendiri. Islam mematahkan “logika akal sehat” manusia modern. Bagaimana mungkin sekelompok orang nekat berbuat biadab membunuh banyak orang tidak berdosa dengan mengatasnamakan agama, tetapi tidak lama setelah peristiwa itu, justru ribuan orang berbondong-bondong menyatakan diri masuk agama tersebut dan menemukan kedamaian didalamnya? 9/11 telah berfungsi menjadi ikon yang memproduksi arus sejarah yang tidak logis dan mengherankan. Selain 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah peristiwa itu, ribuan yang lain dari negara-negara non Amerika (Eropa, Cina, Korea, Jepang dst) juga mengambil keputusan yang sama masuk Islam. Bagaimana arus ini bisa dijelaskan? Sejauh saya ketahui, jawabannya “tidak ada” dalam teori-teori gerakan sosial karena fenomena ini sebuah anomali. Maka, gejala ini hanya bisa dijelaskan oleh “teori tangan Tuhan.”

Tangan Tuhan dalam bentuk blessing in disguise adalah nyata dibalik peristiwa 9/11 dan ini diakui oleh masyarakat Islam Amerika. Karena peristiwa 9/11 yang sangat mengerikan itu dituduhkan kepada Islam, berbagai lapisan masyarakat Amerika justru kemudian terundang kuriositasnya untuk mengetahui Islam lebih jauh. Sebagian karena murni semata-mata ingin mengetahui saja, sebagian lagi mempelajari dengan sebuah pertanyaan dibenaknya: “bagaimana mungkin dalam zaman modern dan beradab ini agama “mengajarkan” teror, kekerasan dan suicide bombing dengan ratusan korban tidak berdosa?” Tapi keduanya berbasis pada hal yang sama: ignorance of Islam (ketidaktahuan sama sekali tentang Islam). Sebelumnya, sumber pengetahuan masyarakat Barat (Amerika dan Eropa) tentang Islam hanya satu yaitu media yang menggambarkan Islam tidak lain kecuali stereotip-stereotip buruk seperti teroris, uncivilized, kejam terhadap perempuan dan sejenisnya.

Seperti disaksikan Eric, seorang Muslim pemain cricket warga Texas, setelah peristiwa 9/11, masyarakat Amerika menjadi ingin tahu Islam, mereka kemudian ramai-ramai membeli dan membaca Al-Qur’an setiap hari, membaca biografi Muhammad dan buku-buku Islam untuk mengetahui isinya. Hasilnya, dari membaca sumbernya langsung, mereka menjadi tahu ajaran Islam yang sesungguhnya. Ketimbang bertambahnya kebencian, yang terjadi malah sebaliknya. Menemukan keagungan serta keindahan ajaran agama yang satu ini. Keagungan ajaran Islam ini bertemu pada saatnya yang tepat dengan kegersangan, kegelisahan dan kekeringan spritual masyarakat Amerika yang sekuler selama ini. Karena itu, Islam justru menjadi jawaban bagi proses pencarian spiritual mereka selama ini. Islam menjadi melting point atas kebekuan spiritual yang selama ini dialami masyarakat Amerika. Inilah pemicu terjadinya Islamisasi Amerika yang mengherankan para pengamat sosial dan politik. Inilah tangan Tuhan dibalik peristiwa /9/11.
Read full history - 20.000 Orang Amerika Masuk Islam Setiap Tahun

North Korea shells South, world urges restraint

North Korea fired scores of artillery shells at a South Korean island on Tuesday, killing two soldiers, in one of the heaviest attacks on its neighbor since the Korean War ended in 1953.

Salute: South Korean marines salute their fellow soldiers killed in a North Korean bombardment during a memorial service at a military hospital in Seongnam, South Korea, Wednesday. 
Salute: South Korean marines salute their fellow soldiers killed in a North Korean bombardment during a memorial service at a military hospital in Seongnam, South Korea, Wednesday.
In Jakarta, Foreign Minister Marty Natalegawa stopped short of blaming any party in the incident, stating only that Indonesia expressed its deep concern over the outbreak of artillery exchanges between North Korea and South Korea on the Yeonpyeong island resulting in the loss of lives.

“Indonesia calls on both sides to immediately cease hostilities, exercise maximum restraint and avoid further escalation of tension,” he said.

Indonesia also underscores the importance of the immediate resumption of the Six Party Talks in order to address all aspects relating to peace and stability on the Korean Peninsula.

The barrage — the South fired back and sent a fighter jet to the area — was close to a disputed maritime border on the west of the divided peninsula and the scene of deadly clashes in the past. South Korea was conducting military drills in the area at the time but said it had not been firing at the North.

The attack came as the reclusive North, and its ally China, presses regional powers to return to negotiations on its nuclear weapons program and revelations at the weekend Pyongyang is fast developing another source of material to make atomic bombs.

It also follows moves by leader Kim Jong-il to make his youngest, but unproven son his heir apparent, leading some analysts to question whether the bombardment might in part have been an attempt to burnish the family’s image with the military.

“Houses and mountains are on fire and people are evacuating. You can’t see very well because of plumes of smoke,” a witness on the island told YTN Television before the shelling ended.

YTN said at least 200 North Korean shells hit Yeonpyeong, which lies off the west coast of the divided peninsula near a disputed maritime border. Most landed on a military base there.

Photographs from Yeonpyeong island, just 120 kilometers west of Seoul, showed columns of smoke rising from buildings. Two soldiers were killed in the attack, 17 wounded. Three civilians were also hurt.

News of the attack rattled global markets, already unsettled by Ireland’s debt woes and a shift to less risky assets.

Experts say North Korea’s Kim has for decades played a carefully calibrated game of provocation to squeeze concessions from the international community and impress his own military. The risk is that the leadership transition has upset this balance and that events spin out of control.

South Korean President Lee Myung-bak, who has pursued a hard line with the North since taking office nearly three years ago, said a response had to be firm following the attack.

North Korea said its wealthy neighbor started the fight. “Despite our repeated warnings, South Korea fired dozens of shells from 1 p.m. ... and we’ve taken strong military action immediately,” its KCNA news agency said in a brief statement.

South Korea said it had been conducting military drills in the area beforehand but had fired west, not north.

The international community was quick to express alarm at the sudden rise in tension in a region that is home to three of the world’s biggest economies — China, Japan and South Korea.

A French diplomatic source said the UN Security Council would call an emergency meeting in a day or two over North Korea, against which it has imposed heavy economic sanctions for previous nuclear and missile tests.

Russian Foreign Minister Sergei Lavrov called the escalation in tensions a “colossal danger”.

China was careful to avoid taking sides, calling on both Koreas to “do more to contribute to peace”.

“China hopes that the relevant parties will do more to contribute to peace and stability in the region ... it is imperative now to resume the Six Party Talks,” a spokesman for the Chinese Foreign Ministry, Hong Lei said.1
Read full history - North Korea shells South, world urges restraint

Britney Spears' mom loses defamation case appeal

A California appeals court rejected a bid Tuesday by Britney Spears' mother to have a defamation claim by the singer's former manager and confidante thrown out.

A three-member panel of the Second District Court of Appeal refused to rule that plaintiff Sam Lutfi had such a tarnished image that he could not sue for defamation.

Spears' mother, Lynne Spears, had asked the justices to become the first California court to adopt a "libel-proof doctrine" that a person cannot sue for defamation if their reputation is so bad that it cannot be further damaged by potentially false statements.

Lutfi sued Lynne Spears and her daughter for libel and defamation in February 2009, claiming he had been falsely accused of controlling the singer and grinding pills into her food during a turbulent period.

The lawsuit cited numerous passages from Lynne Spears' book, "Through the Storm: A Real Story of Fame and Family in a Tabloid World," in which she described him as a "Svengali" and "predator."

Lynne Spears had asked a Los Angeles Superior Court judge to throw out several of Lutfi's claims for damages, stating the passages in the book were true and had been widely published. The judge refused, and the appeal was filed. It was the subject of oral arguments Nov. 18, during which Lutfi's attorney noted the book remained widely available.

Many of the Lynne Spears' claims had been contained in court filings that led a judge to establish a conservatorship involving the Grammy-winning singer in February 2008. At the time, Lutfi was expelled from Britney Spears' inner circle.

The singer's father won a three-year restraining order in 2009 after he said Lutfi violated an agreement not to contact his daughter.

The appeals court noted that Lynne Spears' court statements regarding Lutfi's actions and how they were reported by many news outlets made clear they were allegations.

"We find that Lutfi's reputation was not so badly tarnished by the allegations in (Lynne) Spears' court-filed declarations as to be immune from further damage," the court opinion stated.

Lynne Spears' attorney, Michael Adler, declined comment. Lutfi's attorney, Joseph D. Schleimer, did not immediately return a phone message seeking comment.

Britney Spears remains under the court-ordered conservatorship, which has prevented her from being deposed or testifying in other court cases.

Lutfi's defamation lawsuit will now return to Los Angeles Superior Court, where a status hearing is scheduled Feb. 25.
Read full history - Britney Spears' mom loses defamation case appeal